Jumat, 03 Januari 2014

Membuat Panic Lawan



Gue adalah orang yang selalu gak bisa langsung percaya atau gak percaya sama apa yang orang lain katakan, walau terkadang ekspetasiku terhadap suatu pernyataan agak berlebihan dan sedikit mengada-ada. Misalnya saja, dalam suatu kasus.

Gue punya temen, Tomy. Dia temen main sewaktu gue kerja di Yogyakarta. Tomy adalah mahasiswa dari padang yang terdampar di UGM. Badannya tinggi, tegap dan agak gempal. Wajahnya penuh dengan kutil yang menyeramkan – dibaca jerawat. Kulitnya sawo matang. Ralat : sawo busuk. Yeah, sawo busuk lebih tepatnya.

Pukul 16.30-an. Gue sedang asik tidur-an dan musik-an di kamar kost yang –wow- berantakannya. Dia tiba-tiba aja masuk tanpa ketuk, dan cara yang benar buat masuk kamar orang. Yaaa, emang sih pintu dalam keadaan terbuka.

“DOOORRR.............!!!!” teriak Tomy mencoba ngagetin gue. Yang terdengar malah seperti Buts –monyet Dora The Explorer- kejepit ranselnya.

“Nape loe?????” Ekspresiku datar. Tanpa senyum, tanpa melirik. Mirip kayak J-Lo waktu komentar di Idol.

Wajahnya berubah seperti siluman rubah dengan jurus seribu bayangannya Naruto. Matanya nanar dan mulutnya penuh busa, seperti habis makan shampoo.

“NAJIS!!!” katanya sambil act meludah ke arah kiri. Matanya berputar dan ekspresinya kembali berubah “ Gue pengen makan swikee!!” lanjutnya bertubi-tubi.

“Aman” pikirku. Dia sedang tidak kanibal, sementara. Walau bisa saja, tiba-tiba dia pengen ganyang jantung gue dan memotong ginjal kiri gue lalu dijualnya buat beli swikee satu truck.

“Deket SADHAR ada warung swikee tuh.................” ahhhhh, harus cepet-cepet dialihkan pandangannya dari tubuh gue yang sexy dan gak ada dagingnya ini. Kebetulan kost gue waktu itu deket dengan kampus SADHAR “Sanata Dharma” dan lebih kebetulannya lagi, ada warung swikee di samping selatan kampus.

“Tom, bukannya swikee itu kodoxs ya????” tanya gue sedikit geli nyebutnya.

“Iya.........!!!” jawab tomy datar tanpa ekspresi.

“Apa specialnya????”

“Yahhhhhh,,,,,loe gak pernah nyobain si????? MANTAB!!!” lanjutnya sambil mengacungkan kedua jempol tangannya yang lebih mirip dengan jempol kaki gajah yang super duper bau. Keseringan buat ngupil sih. Tomy memang agak aneh, kadang-kadang dia ngupil pake jempolnya. Mungkin sewaktu gue gak tahu, dia ngupil pake sedotan lalu di masukin ke jus stawberry gue. SIAL. DAMN. Gue akan balas kelakuan yang tak senonoh itu.

“Steak swikee, gue suka, apa lagi satenya, uuhhhh mantab dah” katanya sambil merem melek. Entah sedang mencoba membayangkan atau sedang sakaw air liurnya sendiri. “enak. Enak. Enak’ lanjutnya dengan mata berkilauannya spongebob. Gue curiga bentar lagi dia nyebut patrick si rumah batu.

Secara pribadi, dengar sate kodoxs aja sudah mriding disco, geli-geli agak jijik. Gak ada dalam kamus besar bertata bahasa yang sudah terbaharuhi. Wait. Ekspetasiku mulai liar lagi. Sore-sore gini, dia bicara soal sate kodokxs, jangan-jangan dia bakal bilang sama tukang satenya

“Mas Bokir, satenya 100 tusuk, MENTAHHHH..............!!!”

BUSYET. Tomy memang badoger (istilah buat orang penggila makan) bisa saja dia tiba-tiba kerasukan setannya suzana.

Gue lihat mulutnya mulai basah, pertanda kelaparannya sudah memasuki stadium yang lebih parah. Sebelum kamar gue yang berantakan berubah menjadi berantakan dan kebanjiran, buru-buru Tomy gue suruh kewarung swikee yang gue maksud tadi, dengan alasan supaya tidak kehabisan dan keburu tutup.padahal sekarang baru pukul 5 sore, sementara tutupnya pukul 10 malam.

Dia ngibrit pamit lari terbirit-birit keluar kamar kost. Tiga kata buat Tomy “ Ha Ha Ha”. Gue tertawa besar di atas kemenangan kecilku. Sepertinya satu-satunya keahlian gue dalam mempertahankan diri adalah membuat panik lawan.

Bicara membuat panik lawan, gue jadi keinget masa-masa SMA yang suram dan penuh kutukan. Kalau di film Twilight Saga, jaman SMA adalah masa disaat Bella swan di tinggal Edward cullen check New Moon.

Gue inget persis waktu itu gue masih duduk di bangku kelas XB. Ikut andil memakan bangku sekolah SMA N Jogonalan. Jangan salahkan kita kalau tiba-tiba bangku di sekolahan habis tinggal bangku guru dan papan tulis saja. Zaman itu, gue masih cupu-cupunya –culun punya gitu dan masa kehancuran muka yang parah, walau sekarang juga masih cupu, tapi tidak separah masa SMA itu.

Gue memakai celana super ketat berwarna abu-abu dan baju putih kedodoran. Seharusnya sih gue mirip siswa SMA yang hendak belajar, dan yang terlihat, gue lebih mirip anak badut jalanan yang tersesat bingung jalan pulang ke alam nya. Atau bisa disebut badut jalanan menyamar jadi siswa. Gara-gara penampilan gue yang ekstrem itu, memang sebagian siswa agak menjauh atau sangat menjauh dan menghindari obrolan-obrolan gak penting dengan gue. Okee, gue sadar diri. Tapi sebagian lain, malah menjadikan gue sebagai tempat curahan hati mereka, entah karena muka gue yang miris dan pantas buat meluapkan kesediahan, apa dandanan gue yang membuat meraka berpikir kalau gue itu “gak emberan cin”.

Salah satu dari mereka adalan Elvita. Gadis manis dan cantik dan wangi dan imut dan unyu-unyu dan ukurannya 38. WOW, besar juga ukurannya sepatunya. (dilarang berasumsi lain). Elvita memang buka teman sekelas gue, tapi kita sering berpapasan sewaktu berangkat sekolah, istirahat, atau pulang sekolah. Biasanya kita saling memandang satu sama lain dengan efeck slow motion seperti film Holywood, kemudian dia melempar senyum manisnya. Bukan, bukan senyum manisnya, tapi senyum super manisnya. Gue berusaha menangkap lemparan senyumnya. Lalu dia dengan lantang laksana pasuka baris berbaris

“ Bie belekmu!”

Ngok. “sial!” dalam hati gue, jadi semua ini cuma tentang belek gue, bukan memperhatikan gue. Dia bicara belek pemirsah. Belek. Oh My Ghost, semoga dia dikutuk jadi istri gue. Ameen.

Hari itu Vita ngajakin ketemu setelah pulang sekolah, gue meng-iya-kan aja. Lalu dia bilang lagi dalam sms-nya

“Igt y? Kantn. Plg skul”

“Irit banget’ batin gue lalu send back pesannya yang singkat dengan balasan “Y” tanpa titik tanpa koma. Kalau dipikir-pikir, pembalasan emang selalu lebih kejam. Kalau kata Afgan Syahreza 

“Sadis”.

Waktu pulang sekolah sudah tiba, Gue sudah duduk siap mendengar cerita panjang dari Vita yang kadang gak penting, gue duduk tepat di pojokan kantin milik pak Demo. Nama yang aneh. Gimana kalau tiba-tiba ada demo kenaikan harga soto?? Pada mading sekolah akan menjadi hot news dan terpampang dengan huruf balok bercetak tebal dan dilengkapi garis bawah ::DEMO UNTUK DEMO::. Nah loh, sekarang gue jadi bingung sendiri.

Sekitar 8 menit 53 detik dan 17 persecond, (bagian ini gue ngibul, biar keliatan dramatis) Vita datang. Dia tampak kebingungan mencari keberadaan gue, tengok kanan tengok kiri sambil mengibaskan rambutnya yang gak bagus. Lalu sekilas tampak gembira menemukan setumpuk tahi lalat di pojokan kantin. (dibaca gue)

“Loe disana, gue pikir botol kecap” katanya serenyah kacang goreng.
Gue tersentak, kata-kata elvita kayak sambel ABC Super pedas. Yang bener aja, gue di samain botol kecap yang gak ada bentuk muka mana, pantat mana??? (walau kenyataannya, muka sama pantat gue hampir sama:: itu dulu. Pembelaan)

“Kenapa botol kecap, gak ada yang lebih elite apa?”

“Habis manis........kayak jacky....!!!!!!!!!” Vita senyum ke arah gue. Gue cuma tersipu, mungkin merah padam. Seneng aja ada yang sadar kalau sebenernya gue itu manis.
“yang bener Vit?????” tanyaku menegaskan.

“Iya lah, beneran, manis, mirip Jacky, tau kan????” lanjutnya sambil mainin rambutnya dengan jari telunjuknya.

“Jacky Chan??? Tau banget lah................., tapi perumpamaanmu jelek, masak gue setua Jacky Chan???”

“Ha ha ha, Jacky itu kucing di rumah gue??? Kasian amat Jacky Chan di miripin kayak lu.........”

“Goblok.......!!!!” ekspresi kagetnya robocob.

Vita ketawa kecil. Gue ikut ketawa kecil. Kita ketawa kecil. Hah, tega amat gue menertawakan diri gue sendiri. Bodo amat, yang penting bisa membuat orang lain senang.

“Kayaknya Rudi selingkuh........” air muka Vita berubah merah maroon, PLN di muka Vita lagi bangkrut mungkin. Atau efeck tertawa kecil dengan gue??

“Ha??” gue Cuma bisa melongo kayak kebo bule.

“Iya, Rudy,. Kemaren pas gue jalan bareng dia, ada telepon masuk ke nomor dia, pas gue nyuruh angkat, dia malah gak mau, pas gue tanya siapa? Dia Cuma bilang “biasa temen” gitu aja??? Bikin curiga” Vita mamandang ke arah gue “jangan-jangan dia selingkuh!!!” lanjutnya penuh kepercayaan tingkat kepala sekolah.

Miris juga ya, mengetahui pendapat bahwa gak mau angkat telepon masuk waktu kencan, malah disangka selingkuh. Bisa aja kan itu bokap Rudy yang sedang marahan. Atau bisa jadi Rudy itu teroris kelas ikan tuna, lalu yang telepon itu anggota FBI yang menyamar menjadi cewek super sexy. 

Atau yang telpon adalah orang yang sedang gak tahu jalan pulang lalu ngacak nomor dan ketemunya nomer Rudy yang malang. Semua bisa aja terjadi. Dan gak menutup kemungkinan, Rudy emang selingkuh, mirip dengan pendapat Vita. Gue yang kebingungan mau jawab gimana, Cuma bisa bilang

“Bisa jadi si???””

Vita mandangin gue dengan mata penuh harap. Gue tahu, dia berharap jawaban yang panjang. Vita suka yang panjang. Vita suka es krim. (oke, ini gak penting)

“ Ya Vit, maksud gue, bisa jadi Rudy itu selingkuh, tapi ...................”

Tuh kan, bener kata gue...............” Vita memotong pembicaraan penuh ekspresi histeris. Mungkin sebentar lagi dia bakalan bawa obor lalu upacara ngaben di lapangan futsal, sambil ngibarin bendera kuning polos.

“Tapikan belum tentu juga Vit, bisa ajakan itu beneran temen cownya yang ngajakin malam mingguan!” gue sadar, kata-kata gue agak rancu di bagian ini “ maksudnya, ngajakin futsal bareng gitu, bisa jadi kan???” buru-buru gue benerin sebelum dia ngecap gue homo kelas kelinci.

“Iya sih........” katanya “ Tapi, kalau beneran selingkuh????” Raut mukanya mengeras lagi. Kayak roti yang di oven terus telat ngangkat.

“Kita selediki aja lah!!”

‘Oke, KITA kan??”

Gue sadar, gue salah menggunakan kata kita dalam percakapan dua anak-anak SMA yang ababil itu. Gue Cuma ngangguk.

Misi penyelidikan dimulai. Malam minggu ini, Vita gue larang menerima ajakan kencan. Lalu kita selidiki, Rudy bakal kencan dengan siapa, apakah dengan selingkuhannya yang misterius itu atau dengan teman-temannya untuk foodsal bareng. (food = makan, sal = sandal, silahkan berasumsi.)
Oh iya, sekedar info saja, rudy adalah cowoknya Vita zaman itu. Rudy bukan siswa SMA N 1 Jogonalan. Rudy bukan Rudy Hadi Suwarno. Secara fisikly, Rudy adalah cowok populer bermuka ganteng badan tegap dan berkulit bersih, mungkin ddanya ditumbuhi bulu-bulu halus kayak anak kingkong. Gue si gak begitu kenal dengan Rudy, Cuma sekedar tahu, dan gak lebih.

Gue masih gak habis fikir, gimana jadinya kalau Rudy emang beran selingkuh, kalau Rudy gak main sama temen-temen futsal, tapi main sama temen cewek lainnya. Gimana kalau Rudy hamil.

Gue ngangkat telepon dan memencet nomor yang gue tahu itu milik Vita.

“Halo, Bie! Gimana?” suara Vita diseberang sana.

“Ya Vit, lu dah jalan belom?” hari itu buat penyelidikan awal, kita janjian di deket kolam renang deket perumahan tempat Rudy tinggal. Kebetulan rumah Rudy deket dengan rumah temen gue, Witri. 
Dan gue sudah buat janji sama Witri, gue bakalan datang kerumahnya malam minggu ini.

“Iya Bie, nie gue udah mau OTW! Dia menarik nafas dalam-dalam.gue sampe bisa mendengarnya dengan jelas dari seberang telepon. Lalu dia berkata ‘ Gue sebenernya belom siap buat kehilangan Rudy, Bie!!!”

Nah lu, gue mikir sejenak. Kayaknya gue salah besar kalau nyuruh dia menyelidiki hal semacam ini. Gue juga gak seharusnya ikut campur dalam urusandia dengan Rudy. Gue seharusnya nonton Spongebobs>

“Rudy kan belom tentu selingkuh Vit? Tenang aja, semua ada jalannya.!” Jawab gue lebih lembut dari biasanya.

Seperti yang sudah di rencanakan, gue dan Elvita datang kerumah Witri, yang waktu itu sedang mendapat kunjungan dari kekasihnya. Tapi gue rasa, ini gak masalah. Witri dan Vita gak saling kenal. Ini adalah kali pertamanya pertemuan mereka. Witri juga gak tahu kalau Vita ceweknya Rudy.

“Kak, ini ceweknya??” Celetuk Witri yang kelihatan polos tanpa dosa.

“Bukan dek, dia cewek waras dek.!!!”

“Alhamdulillah..........!!!” Jawabannya sedikit membingungkan.

“??” Gue hanya melongo, mencoba mencari tahu apa yang dimaksud Witri dengan perkataan seperti tadi. Tapi gagal.

“Iya, Alhamdilillah, berarti kan dunia belom mau kiamat!” dia menahan tawanya” kalau yang cantik, sudah melirik yang kayak kakak, ini dunia sudah rapuh”

“Maksudnya, seperti kakak???” gue lagi-lagi melongo besar. Gue tahu, mereka bertiga sedang menahan tawa dan akhirnya meledak.

Gue gak paham dimana letak lucunya. Seperti gue?? Bahkan sampe sekarang juga masih gak tahu apa maksudnya.

Setelah sekian lama saling mengobrol, Rudy keluar rumah, bareng dengan seorang cewek. Sekali lagi seorang cewek. One more time. Rudy cewek. Vita kelihatan shock, dia menepuk-nepuk bahu gue, yang kurasakan dia sedang memegang palu raksasa lalu dipukul-pukulin ke pundak gue. Sebentar lagi gue pingsan.

Rudy kelihatan asik ngobrol dengan cewek itu. Perawakannya tinggi langsing dan cantik. Rambut lurus sebahu hitam kelam. Mirip model shampoo. Gue lirik lagi ke arah Vita, dia tampak serius mandangin ke arah Rudy. Entah kenapa, tiba-tiba Witri teriak histeris.

“Rudy, sini!”

Anjritt. Ini masalah. Sumpah ini masalah besar. Gue harus cepet-cepet kabur. Ingin rasanya gue buru-buru stop peasawat latihan TNI yang terbang diatas rumah, lalu pergi ke kutub utara. Tapi kayaknya gak mungkin, telat.

“Vita, Biant?” Rudy shock. Gue shock. Vita shock. Pilot pesawat latihan TNI shock dan boy band korea shock. “kalian” dia mengacungkan telunjuknya dan kelihatan serius.

“Menang!” kata gue sambil mengacungkan jempol ke arah Rudy, mencoba mencairkan suasana. Tapi gagal total.

Vita menatap nanar kearah Rudy. Dari matanya keluar bola-bola api. Matanya kebakaran mungkin dalam waktu dekat, dia akan berdiri lalu pasang kuda-kuda dan teriak “HA ME HA ME” dia berukan menjadi Ghoku.

“Siapa wanita itu?” Vita menunjuk ke arah wanita tadi berdiri, walau sekarang sudah gak ada. Mungkin wanita tadi adalah hantu dan akan muncul tiba-tiba dari pesawat latihan TNI sambil tertawa 
“KIKIKIKI”

“Siapa?” wajah Rudy memerah padam.

“Yang tadi?” Vita mulai ngotot. Gue, Witri dan kekasihnya yang gue lupa namanya, Cuma bisa duduk diam. Kenapa waktu itu, gue gak taruhan aja ya?? Oh iya, itu dilarang Bang Haji Rhoma Irama. Terlalu.

“Tadi???? Itu mama!” Gue shock. Vita shock dan oke cukup, gak ada pilot pesawat latiham TNI lagi.

“Jadi, tadi..........mamamu??” tanya Vita keliatan Inocent. Oh Vita yang malang, sama calon mertua aja gak tahu, gak kenal, gimana bisa sayang??. Oke. Sementara gue nganggep Vita Freak.
Rudy mengangguk. Matanya melirik ke arah gue, gue jadi salah tingkah. Gak tah harus berbuat apa?

Gak tahu gue harus menceritakan kejadian memalukan ini apa gak?? Tapi yang terjadi selanjutnya adalah Rudy menendang kursi gue dan gue –GUBRAKKKK- ke lantai. Dan disaat ini pulalah gue mengeluarkan jurus “membuat panik lawan”. Gue pura-pura pingsan. Entah kenapa juga gue pura-pura pingsan. Gue bisa aja pura-pura amnesia sementara dan lalu berkata “kalian siapa? Saya siapa? Dimana celana dalam saya?” atau pura-pura Schizoprenia dan bilang, mungkin kepribadian gue yang lain yang melakukan.

Vita shock. Rudy shock. Witri dan kekasihnya pacaran, apakah mereka shock?? Tunggu di episode berikutnya. Vita mendekati gue, menepuk-nepuk pipi. Gue sie berharap, bakal ada adegan kayak di film-film gitu, memberi nafas buatan.

Rudy hendak menggendong gue, entah kenapa saat dia nyentuh tubuh gue, seperti ada setrum yang kuat. Mungkinkah dia anggota X-men, atau anggota Teletubies sedang pegang setrum??

Dan setelah itu yang terjadi gue teriak histeris kayak cheer leader nginjek tahi kebo. “eesssssss” bingung juga gue, kenapa gue teriak “es” mungkin mau bilang “sorry” atau strum atau selangkangan, gue gak tahu. Setelah itu, gue, Rudy, Vita, Witri dan kekasihnya yang gue masih lupa namanya, sudah berada di warung es kelapa muda lengkap dengan semangkuk bakso super hot. Bingung juga sie, setelah hendak berantem macam bruce lee dan gue tergeletak pingsan, walau Cuma bohongan, sekarang dia malah mentraktir gue makan. Kayaknya jurus membuat panik lawan itu berhasil 100%.
Satu pelajaran yang bisa gue ambil dari kejadian ini adalah berprasangka buruk sama orang itu hanya akan berakhir buruk pada diri kita sendiri. Bukankah lebih baik kita mencari tahu dahulu kebenarannya. Belom tentu yang kita pikirkan bener semuakan??

Dalam kasus ini, gue tetep nyalahin Rudy. Seharusnyakan dia tidak langsung main kaki begitu saja, berbijaksana menanyakan apa yang terjadi terlabih dahulu. Itu semestinya. Walau sekarang gue udah maafin dia. Terimakasih buat es kelapa dan semangkuk bakso yang gue masih inget rasanya. Gue juga masih inget, lo bilang ke gue “Maaf ya BII, tadi emosi?” dan mukamu menunjukan penyesalan. Gue tahu, loe bener-bener nyesel. Makanya gue sebagai umat manusia yang berpancasila dan ber-UUD- 45 dan hampir cakep ini, memaafkan loe. Rudy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar